Trend telematika di Indonesia pada umunya akan berkembang dengan pesat dengan seiring berkembangnya teknologi informasi. Masyarakat saat ini tidak harus bersusah payah untuk menghubungi kerabat, teman atau keluarga mereka atau hanya sekedar mencari informasi. Mereka sudah bisa mendapatkan informasi melalui fasilitas telepon, internet dan dapat melihatnya melalui televisi. Trend tersebut akan berkembang lebih pesat lagi bila diiringi dengan sumber daya yang mumpuni.
Pada prinsipnya berbagai jenis usaha di dunia telematika dapat di pilah-pilah menjadi berbagai usaha yang sifatnya modular tidak terlalu tergantung satu dengan lainnya. Beberapa servis seperti NIC servis & CA/RA/PKI servis memang merupakan servis pendukung yang sifatnya tidak terlalu profit-oriented, akan tetapi tidak bisa di pisahkan dari usaha yang didukungnya
Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) juga tidak akan kalah dengan perkembangan TIK saat ini. Perangkat komputasi berskala terabyte, penggunaan multicore processor, penggunaan memory dengan multi slot serta peningkatan kapasitas harddisk multi terabyte akan banyak bermunculan dengan harga yang masuk akal. Komputasi berskala terabyte ini juga didukung dengan akses wireless dan wireline dengan akses bandwidth yang mencapai terabyte juga. Hal ini berakibat menumbuhkan faktor baru dari perkembangan teknologi. Antarmuka pun sudah semakin bersahabat, lihat saja software Microsoft, desktop UBuntu, GoogleApps, YahooApps Live semua berlomba menampilkan antarmuka yang terbaik dan lebih bersahabat dengan kecepatan akses yang semakin tinggi. Hal ini ditunjang oleh search engine yang semakin cepat mengumpulkan informasi yang dibutuhkan oleh penggunannya.
Ada lima kelompok industry yang berperan besar dalam perkembangan trend telematika ke depan, diantaranya:
1. Infrastruktur Telekomunikasi (biasanya resiko bisnis paling besar)
2. Infrastruktur Internet (biasanya resiko bisnis sedang & rendah)
3. Hosting service (biasanya resiko bisnis rendah)
4. Transaction type service (biasanya resiko bisnis rendah)
5. Content / knowledge producer (biasanya resiko bisnis rendah)
Dalam dunia informasi yang biasanya penggunanya berpendidikan, proses community building agak lebih pelik dari pada dunia biasa. Konsep penggalangan massa seperti para partai politik di dunia nyata tidak mungkin dilakukan di dunia maya. Interaksi dua arah berbentuk diskusi, di talkshow, di kolom-kolom media di tumpu oleh kemampuan leadership (kepemimpinan), total customer satisfaction dan komitmen kepada masyarakat berpengetahuan akan menjadi kunci keberhasilan dalam melibatkan masyarakat dalam kebersamaan.
Rabu, 01 Oktober 2014
Perkembangan Telematika di Indonesia
Telematika banyak dimanfaatkan dalam berbagai bidang, salah satunya adalah bidang telekomunikasi yang berfokus pada pertukaran data yang menjadi kebutuhan konsumen mereka seperti telekomunikasi lewat telepon, saluran televisi, radio, media lainnya, dan juga sistem pelacakan navigasi secara realtime berbasis satelit yang disebut GPS(Global Positioning System). Pada penerapaannya, Telematika menggunakan suatu teknologi pengiriman, penerimaan dan penyimpanan informasi melalui perangkat telekomunikasi dalam hubungannya dengan pengaruh pengendalian/control pada objek jarak jauh.
Untuk di Indonesia sendiri, perkembangan telematika mengalami tiga periode berdasarkan fenomena yang terjadi di masyarakat, yaitu:
1. Periode rintisan yang berlangsung akhir tahun 1970-an sampai dengan akhir tahun 1980-an. Pada tahun 1970-an, perhatian yang minim dan pasokan listrik yang terbatas, membuat Indonesia tidak cukup mengindahkan perkembangan telematika. Pada tahun 1980-an, jaringan telpon, saluran televisi nasional, stasiun radio nasional dan internasional, dan komputer mulai dikenal di Indonesia, walaupun penggunanya masih terbatas.
2. Periode kedua disebut periode pengenalan, rentang wktunya adalah tahun 1990-an. Jaringan radio amatir yang jangkauannya sampai ke luar negeri marak pada awal tahun ini. Teknologi telematika, seperti computer, internet, pager, handphone, teleconference, siaran radio dan televisi internasional - tv kabel Indonesia, mulai dikenal oleh masyarakat Indonesia. Periode pengenalan telematika ini mengalami lonjakan pasca kerusuhan Mei 1998.
3. Periode ketiga yaitu periode aplikasi dimulai tahun 2000. Awal era millennium inilah, pemerintah Indonesia serius menaggapi perkembangan telematika dalam bentuk keputusan politik dengan dikeluarkannya Keputusan Presiden No. 50 Tahun 2000 tentang Tim Koordinasi Telematika Indonesia (TKTI), dan Instruksi Presiden No. 6 Tahun 2001 tentang Pendayagunaan Telematika. Sepanjang tahun 2007 yang lalu, Indonesia telah mengalami pertumbuhan 48% persen terutama di sektor sellular yang mencapai 51% dan FWA yang mencapai 78% dari tahun sebelumnya. Namun, peluang untuk memperoleh informasi bernuansa porno dan bentuk kekerasan lainnya, menjadi sangat mudah didapatkan dalam teknologi telematika.
Definisi Telematika
Para praktisi menyatakan bahwa Telematika adalah singkatan dari Telekomunikasi dan Informatika sebagai wujud dari perpaduan konsep Computing and Communication. Istilah Telematics juga dikenal sebagai The New Hybrid Technology yang lahir karena perkembangan teknologi digital. Perkembangan ini memicu perkembangan teknologi telekomunikasi dan informatika menjadi semakin terpadu atau populer dengan istilah konvergensi.Penggunaan istilah telematika sendiri mungkin lebih akrab di telinga masyarakat umum dalam ranah hukum. Istilah ini, sering digunakan karena dianggap dapat membantu untuk mengungkap kebenaran dari suatu barang bukti, khususnya barang bukti yang berkaitan dengan media teknologi informasi, seperti video dan foto. Sehingga sangat membantu proses penyidikkan yang dilakukan oleh penegak hukum. Sebagai contoh, beberapa waktu yang lalu sempat muncul beberapa video asusila yang cukup menarik perhatian masyarakat. Apakah benar video tersebut dapat diterima kebenarannya? Disinilah salah satu kegunaan telematika. Melalui analisa-analisa dari sisi telematika maka dapat diketahui kebenaran dari video asusila tersebut.
Pengaruh positif atau negatif yang bisa muncul dari telematika ini tentu saja lebih banyak tergantung dari pemanfaatannya. Bila anak-anak dibiarkan menggunakan komputer secara sembarangan, pengaruhnya bisa jadi negatif. Sebaliknya, komputer akan memberikan pengaruh positif bila digunakan dengan bijaksana.
Jumat, 13 Juni 2014
Karangan Semi-Ilmiah
Definisi Karangan Semi-Ilmiah
Karangan Semi-Ilmiah adalah karangan yang menyajikan fakta dan fiksi dalam satu tulisan. Penulisannya-pun tidak semiformal tetapi tidak sepenuhnya mengikuti metode ilmiah. Penulisan yang baik dan benar, ditulis dengan bahasa konkret, gaya bahasanya formal, kata-katanya teknis dan didukung dengan fakta umum yang dapat dibuktikan benar atau tidaknya atau sebuah penulisan yang menyajikan fakta dan fiksi Jenis karangan semi ilmiah memang masih banyak digunakan misalnya dalam opini, editorial, resensi, anekdot, hikayat, dan karakteristiknya berada diantara ilmiah.
Bentuk Karangan Semi-Ilmiah
- Artikel
- Editorial
- Opini
- Feuture
- Reportase
- Manga
Ciri – ciri Karangan Semi-Ilmiah
- Emotif, kemewahan dan cinta lebih menonjol, tidak sistematis, lebih mencari keuntungan dan sedikit informasi.
- Persuasif, penilaian fakta tanpa bukti. Bujukan untuk meyakinkan pembaca, mempengaruhi sikap cara berfikir pembaca dan cukup informative.
- Deskriptif, pendapat pribadi, sebagian imajinatif dan subjektif.
- Kritik tanpa dukungan bukti.
- Ditulis berdasarkan fakta pribadi
- Fakta yang disimpulkan subyektif
- Gaya bahasa formal dan popular
- Mementingkan diri penulis
Sumber :
wartawarga.gunadarma.ac.id/2011/02/karangan-ilmiah-karangan-semi-ilmiah-dan-karangan-non-ilmiah/
Selasa, 22 April 2014
Proposal Kegiatan
PROPOSAL KEGIATAN
DALAM RANGKA PERINGATAN HUT RI KE-68
I. PENDAHULUAN
I.1 LATAR BELAKANG
Tema HUT RI ke-69: "Dengan Smangat Proklamasi 17 Agustus 1945, Kita Lanjutkan Pembangunan Ekonomi Mnuju Peningkatan Kesejahteraan Rakyat, serta Kita Perkuat Ketahanan Nasional Menghadapi Tantangan Global".
I.2 MAKSUD DAN TUJUAN
I.2.1 Maksud
Adapun mksud diadakannya kegiatan ini adalah sbagai bentuk rasa syukur kpada Tuhan YME & kegembiraan dlam menyambut Hari Ulang Tahun kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 69 pada tanggal 17 Agustus 2013
I.2.2 Tujuan Kegiatan
Adapun tujuan diadakannya acara ini adalah :
- Mempererat tali silaturahmi antar sesama warga RT 02 / RW 03 Desa Apaja Kecamatan Bolleh Barat –Teseraha.
- Meningkatkan smangat juang dlam meraih prestasi diantara anak-anak.
- Memupuk jiwa sportifitas dlam berlomba diantara anak-anak
- Memupuk semangat kbangsaan antar generasi untuk mmperkuat ketahanan nasional menghadapi tantangan global.
I.3 DASAR KEGIATAN
Kegiatan ini dilaksanakan berdasarkan.
- Pancasila sila ke-3, “Persatuan Indonesia”.
- Petunjuk dan arahan bapak Ketua RW 03 tentang pelaksanaan kegiatan dalam rangka peringatan HUT RI ke 68 di tingkat RT di lingkungan RW 03 Desa Apaja Kecamatan Bolleh Barat –Teseraha.
II. ISI PROPOSAL
II.1 TEMA KEGIATAN
Kegiatan yg mengedepankan kebersamaan warga antar generasi serta kegiatan anak-anak yang bersifat mengembangkan daya kreatifitas, ketrampilan, ketangkasan & sportifitas.
II.2 MACAM KEGIATAN
1. Acara syukuran HUT RI ke 69, 17 Agustus 2013.
- Syukuran & Doa.
- Santap Malam Bersama dan Ramah Tamah.
2. Perlombaan balita dan anak-anak
- Tingkat Balita (usia 0 – 5 tahun) 3 lomba.
- Tingkat SD (usia 6 – 12 tahun) 5 lomba Jenis perlombaan akan ditetapkan kemudian.
II.3 PESERTA.
Seluruh warga RT 02 / RW 03 Desa Apaja Kecamatan Bolleh Barat –Teseraha.
II.4 WAKTU & TEMPAT PELAKSANAAN
a. Perlombaan balita & anak-anak
Hari, tanggal : Minggu, 17 Agustus 2013
Waktu : Pukul 07.30 WIB s.d. selesai
Tempat : Lapangan Volli RT 02 / RW 03 Desa Apaja Kecamatan Bolleh Barat –Teseraha.
b. Acara syukuran HUT RI ke 63 – 17 Agustus 2013
Hari, tanggal : Minggu, 24 Agustus 2013
Waktu : Pukul 19.30 WIB s.d. selesai
Tempat : Lapangan Volli RT 02 / RW 03 Desa Apaja Kecamatan Bolleh Barat –Teseraha.
II.5 SUSUNAN KEPANITIAAN
- Pelindung : Tuhan YME
- Penasehat : Bapak Ketua RW 02
- Penanggung Jawab : Bapak Ketua RT 02/RW 03
Panitia Pelaksana - Ketua Pelaksana : Ade Supriyadi
- Sekretaris : Embuh K.I.Wes
- Bendahara : Eva
- Seksi-seksi.
Koordinator : Berlyn
Anggota : Endy Bambang, Lilis Novita, Fauzy, Ary ,Sindhu, Abdol Rohman, Didk..
2. Seksi Perlombaan Anak-Anak
Koordinator : Suparman
Anggota : Tutik, Krisma, Susila, Evita, Lindya, Agung, Didit, Toing, Firdaus.
3. Seksi Umum & Dokumentasi
Koordinator : -
Anggota : -
II.7 JADWAL PELAKSANAAN KEGIATAN
Jadwal rinci pelaksanaan kegiatan akan ditetapkan & diumumkan kemudian.
III. ESTIMASI BIAYA
III.1 PENGELUARAN
1. Seksi Kesekretariatan
- Pembuatan Proposal Rp. 25.000
- Foto kopi Rp. 25.000
Jumlah Rp. 50.000
2. Seksi Acara Malam Syukuran
- Konsumsi Rp. 800.000
- Hiburan Organ Tunggal Rp. 1.000.000
Jumlah Rp. 1.800.000
3. Seksi Perlombaan Anak2
- Alat & bahan perlombaan Rp. 100.000
- Hadiah-hadiah Rp. 800.000
- Snack untuk 60 anak @Rp. 10.000 Rp. 600.000
Jumlah Rp. 1.500.000
4. Seksi Umum daN Dokumentasi
- Cuci cetak foto Rp. 50.000
- Transport Rp. 100.000
Jumlah Rp. 150.000
Total Rp. 3.500.000
Terbilang: (Tiga Juta Lima Ratus Ribu Rupiah)
III.2 SUMBER DANA
Kgiatan ini memperoleh dana dari
- Bantuan kas RT Rp. 500.000
- Arisan ibu-ibu Rp. 250.000
- Donasi para donatur RT027/RW06 yang budiman Rp. 1.750.000
- Partisipasi warga minimal Rp. 25.000/rumah Rp. 1.000.000
Total Rp. 3.500.000
Terbilang: (Tiga Juta Lima Ratus Ribu Rupiah
IV. PENUTUP
Demikian proposal ini kami buat. Kami mengharapkan dukungan dan partisipasi Bapak/Ibu. Semoga acara ini dapat terlaksana sebagaimana yang kita harapkan.
Atas perhatian dan kerjasama Bapak/Ibu, kami ucapkan terima kasih
LEMBAR PENGESAHAN
Ketua Pelaksana Sekretaris
Devi Tantowi Safri Kurnia Irawan
Menyetujui
KETUA RT027 RW08 Desa Anggadita Klari
Karawang
Teori Proposal
Teori adalah hasil penalaran logik terhadap suatu fenomena atau realitas tertentu yang dirangkum menjadi suatu konsep gagasan, pandangan, sikap dan atau cara-cara yang pada dasarnya menguraikan nilai-nilai dan tujuan tertentu yang teraktualisasi dalam proses hubungan situasional, hubungan kondisional, atau hubungan fungsional di antara hal-hal yang terekam dari fenomena atau realitas tersebut; dan hasil penalaran tersebut dapat diterima khalayak sebagai suatu disiplin ilmu.
Fungsi Teori dalam penyusunan Proposal Penelitian, Tesis dan Disertasi adalah
Masalah penyusunan Sub Bab Latar Belakang penelitian yang diramaikan dengan kutipan teori adalah penempatan fungsi teori yang tidak tepat. Alasannya, teori itu bukan obyek penelitian. Karena fungsi Sub Bab Latar Belakang penelitian adalah untuk mengungkapkan suatu fenomena yang dijadikan obyek penelitian, maka yang perlu dideskripsikan adalah data faktual yang menyatakan fenomena; bukan mendeskripsikan teori-teori untuk menyatakan fenomena. Artinya, penempatan fungsi teori dalam penyusunan Sub Bab Latar Belakang penelitian tidak tepat. Mungkin ada pembenaran terhadap penempatan teori dalam penyusunan Sub Bab Latar Belakang penelitian, namun pembenaran itu justru memperlemah langkah awal Kandidat dalam membangun suatu konsep gagasan. Mengapa dikatakan demikian, karena konsep gagasan yang dibangun itu tidak berasal dari pemikiran logik Kandidat terhadap fenomena, tetapi berasal dari pemikiran teoritis. Konsep gagasan itu sebaiknya dibangun secara murni berdasarkan kekuatan penalaran logik terhadap hal-hal yang dikritisi.
Masalah teknis pengutipan teori yang kurang cermat muncul apabila Kandidat kurang memahami ketentuan teknis pengutipan teori. Teknis pengutipan teori ini mencakup penyebutan nama nara sumber, tahun penerbitan buku dan halaman pengukutipan serta tata cara penempatan kutipan teori. Masalah ini dapat segera diatasi dengan mempelajari panduan teknis pengutipan teori, termasuk penyusunan daftar pustaka, yang diterbitkan oleh masing-masing program.
Masalah pokok dalam proses penerapan fungsi teori adalah sulit menemukan teori-teori yang secara struktural dapat dijadikan landasan teoritis untuk penyusunan definisi konseptual variabel penelitian, dimensi-dimensi kajian dan indikator-indikator penelitian yang dapat merepresentasikan karakteristik obyek penelitian. (Olalaah piye toh mbah, kulo juga mboten ngertos carane ngolah teori, mbok yaow memang ndak ada tuh pelajaran teori mengolah teori untuk menyusun proposal penelitian!)
Penggunakan teori secara mutlak menurut apa adanya teori adalah salah satu masalah yang mungkin dihadapi Kandidat. Penggunaan teori seperti ini biasanya timbul dari kalangan pemegang otoritas yang masih berpandangan konservatif. Terhadap obyek atau variabe-variabel tertentu pemaksaan teori itu mungkin dapat diterima, karena rujukan teori untuk itu memang dapat merepresentasikan karakteristik obyek atau variabel secara mendetail (secara struktural teori dapat menunjukkan pemahaman konseptual, dimensi-dimensi kajian yang tercakup dalam pemahaman konseptual, dan indikator-indikator penelitian pada masing-masing dimensi kajian).
Namun kenyataannya sulit menemukan teori yang dapat merepresentasikan karakteristik obyek atau variabel secara mendetail. Pada umumnya teori-teori hanya bisa menunjukkan hal-hal yang dapat dijadikan dimensi-dimensi kajian saja. Indikator-indikator penelitian yang tercakup dalam penjabaran dimensi-dimensi kajian lebih banyak diciptakan atau ditemukan sendiri oleh Kandidat.
Mengapa demikian, karena teori-teori yang tercakup dalam disiplin ilmu-ilmu non eksata cenderung tidak bersifat universal. Karena cenderung tidak bersifat universal, maka teori-teori yang tercakup dalam ilmu-ilmu non eksata, terutama rumpun ilmu politik dan ilmu sosial, tidak dapat dipaksakan untuk sepenuhnya dijadikan instrumen penggalian berbagai indikator yang tercakup dalam suatu obyek atau variabel penelitian yang mempunyai karakter tersendiri.
Misalnya, obyek atau variabel Rumah Orang Kaya tentu mempunyai tata ruang dan indikator-indikator setiap ruang yang sangat berbeda dengan tata ruang dan indikator-indikator setiap ruang pada variabel Rumah Orang Miskin. Meskipun kedua obyek tersebut sama-sama rumah, namun karakteristik masing-masing rumah tentu sangat berbeda. Jadi tidak relevan menggunakan pendekatan teori rumah orang kaya untuk menilai obyek rumah orang miskin. Disamping itu ada keterbatasan jangkauan fungsi teori.
Sebagai misal, George R. Terry, Hennry Fayol dan pakar-pakar sosiologi lainnya memang menunjukkan fungsi-fungsi manajemen yang agak berbeda, namun fungsi-fungsi manajemen yang ditunjukan mereka itu masih bersifat umum. Ketika teori mereka itu dipakai untuk menyusun konsep operasional variabel Manajemen Warteg, maka dari mereka itu kita hanya bisa mengambil fungsi-fungsi manajemen untuk ditetapkan menjadi dimensi-dimensi kajian.
Fungsi-fungsi yang dimaksud seperti fungsi perencanaan (planning), fungsi pengorganisasian (organizing), fungsi pengawasan (controling), fungsi penggerakan (directing), dan fungsi pelaporan (reporting). Pengambilan fungsi-fungsi itu pun harus disesuaikan dengan karakteristik Manajemen Warteg. Misalnya, fungsi organizing kurang relevan untuk dijadikan salah satu dimensi kajian, karena Manajemen Warteg menganut pola pengorganisasian yang tidak terstruktur dan non formal.
Selanjutnya, karena para pakar sosiologi itu tidak menunjukkan indikator-indikator khusus untuk mengoperasionalkan variabel Manajemen Warteg, maka Kandidatlah yang harus menemukan indikator-indikator untuk masing-masing fungsi manajemen yang dikemukakan oleh para pakar itu, agar fungsi-fungsi manajemen yang dijadikan dimensi-dimensi kajian itu bisa dioperasionalkan dan ”langsung nyambung” dengan hal-hal yang menjadi ciri karakteristik obyek atau variabel penelitian, yaitu Manajemen Warteg Mas Gimin.
Penggunaan teori secara mutlak menurut apa adanya teori memang diharuskan bila ilmu yang dipelajari termasuk ilmu-ilmu eksata, dan perkara-perkara yang diteliti pun memang bersifat eksata. Penggunaan teori secara mutlak menurut apa adanya teori untuk penelitian sosial memang agak janggal.
Penggunaan teori yang tidak relevan. Ada pemegang otoritas penyelesaian tugas akhir studi yang memaksa Kandidat untuk memasukan teori-teori yang sebenarnya tidak relevan untuk dijadikan rujukan penyusunan konsep penelitian. Bila teori-teori yang tidak relevan itu dipaksakan juga untuk menjadi rujukan penyusunan konsep penelitian, maka kemungkinan yang terjadi adalah bahwa konsep tersebut bisa nggak nyambung dengan karakteristik obyek atau variabel penelitian. Ada juga pemegang otoritas yang memaksakan Kandidat harus merujuk sekian banyak teori, dan bahkan diwajibkan mengutamakan teori-teori dari penulis asing. Persoalannya bukan terletak pada seberapa banyak teori yang harus dirujuk, dan siapa penulis teori itu, tetapi terletak pada persoalan apakah teori-teori itu cocok untuk dijadikan instrumen pengungkapan karaktersitik obyek atau variabel penelitian. Artinya, teori-teori yang dirujuk hendaknya benar-benar fungsional untuk menyusun konsep penelitian yang sesuai dengan karateristik obyek atau variabel penelitian.
Cara pengelolaan teori yang tidak rasional. Ada pula kebijakan program yang mewajibkan Kandidat membaca sekian puluh buku dan hasil pembacaan buku itu disusun menjadi bagian dari penyusunan Proposal Penelitian. Kebijakan seperti ini dikenal dengan sebutan ”Reading Course”. Kebijakan seperti itu berlaku pada program yang memang sangat menonjolkan jenis penelitian deskriptif. Dengan kebijakan yang demikian itu, fenomena yang dijadikan obyek penelitian dan judul penelitian terkesan didapat dari rujukan teori atau menurut teori. Kebijakan program seperti itu kurang tepat.
Karena pengelolaan teori yang tidak didasarkan pada suatu konsep gagasan yang jelas dan pasti justru dapat mengaburkan fungsi teori dalam penyusunan Proposal Penelitian. Kebijakan seperti itu bisa juga dianggap tidak benar, karena sama saja dengan menyatakan bahwa proses pengajaran sekian banyak teori, termasuk metodologi penelitian, selama sekian tahun masa perkuliahan, dianggap percuma atau dianggap tidak efektif untuk membekali Kandidat. Sebaiknya teori yang dirujuk sudah didasarkan pada konsep gagasan yang jelas dan pasti. Sebagai misal, variabel X adalah Motivasi dan variabel Y adalah Kinerja, maka dengan sendirinya teori-teori yang dirujuk adalah teori motivasi dan teori kinerja. Di luar kedua teori tersebut tidak ada gunanya.
Fungsi Teori dalam penyusunan Proposal Penelitian, Tesis dan Disertasi adalah
- Sebagai Pengantar Pemahaman Variabel Penelitian
- Landasan Teoritis Penyusunan Konsep Penelitian
- Rujukan Pembahasan Hasil Penelitian
Masalah penyusunan Sub Bab Latar Belakang penelitian yang diramaikan dengan kutipan teori adalah penempatan fungsi teori yang tidak tepat. Alasannya, teori itu bukan obyek penelitian. Karena fungsi Sub Bab Latar Belakang penelitian adalah untuk mengungkapkan suatu fenomena yang dijadikan obyek penelitian, maka yang perlu dideskripsikan adalah data faktual yang menyatakan fenomena; bukan mendeskripsikan teori-teori untuk menyatakan fenomena. Artinya, penempatan fungsi teori dalam penyusunan Sub Bab Latar Belakang penelitian tidak tepat. Mungkin ada pembenaran terhadap penempatan teori dalam penyusunan Sub Bab Latar Belakang penelitian, namun pembenaran itu justru memperlemah langkah awal Kandidat dalam membangun suatu konsep gagasan. Mengapa dikatakan demikian, karena konsep gagasan yang dibangun itu tidak berasal dari pemikiran logik Kandidat terhadap fenomena, tetapi berasal dari pemikiran teoritis. Konsep gagasan itu sebaiknya dibangun secara murni berdasarkan kekuatan penalaran logik terhadap hal-hal yang dikritisi.
Masalah teknis pengutipan teori yang kurang cermat muncul apabila Kandidat kurang memahami ketentuan teknis pengutipan teori. Teknis pengutipan teori ini mencakup penyebutan nama nara sumber, tahun penerbitan buku dan halaman pengukutipan serta tata cara penempatan kutipan teori. Masalah ini dapat segera diatasi dengan mempelajari panduan teknis pengutipan teori, termasuk penyusunan daftar pustaka, yang diterbitkan oleh masing-masing program.
Masalah pokok dalam proses penerapan fungsi teori adalah sulit menemukan teori-teori yang secara struktural dapat dijadikan landasan teoritis untuk penyusunan definisi konseptual variabel penelitian, dimensi-dimensi kajian dan indikator-indikator penelitian yang dapat merepresentasikan karakteristik obyek penelitian. (Olalaah piye toh mbah, kulo juga mboten ngertos carane ngolah teori, mbok yaow memang ndak ada tuh pelajaran teori mengolah teori untuk menyusun proposal penelitian!)
Penggunakan teori secara mutlak menurut apa adanya teori adalah salah satu masalah yang mungkin dihadapi Kandidat. Penggunaan teori seperti ini biasanya timbul dari kalangan pemegang otoritas yang masih berpandangan konservatif. Terhadap obyek atau variabe-variabel tertentu pemaksaan teori itu mungkin dapat diterima, karena rujukan teori untuk itu memang dapat merepresentasikan karakteristik obyek atau variabel secara mendetail (secara struktural teori dapat menunjukkan pemahaman konseptual, dimensi-dimensi kajian yang tercakup dalam pemahaman konseptual, dan indikator-indikator penelitian pada masing-masing dimensi kajian).
Namun kenyataannya sulit menemukan teori yang dapat merepresentasikan karakteristik obyek atau variabel secara mendetail. Pada umumnya teori-teori hanya bisa menunjukkan hal-hal yang dapat dijadikan dimensi-dimensi kajian saja. Indikator-indikator penelitian yang tercakup dalam penjabaran dimensi-dimensi kajian lebih banyak diciptakan atau ditemukan sendiri oleh Kandidat.
Mengapa demikian, karena teori-teori yang tercakup dalam disiplin ilmu-ilmu non eksata cenderung tidak bersifat universal. Karena cenderung tidak bersifat universal, maka teori-teori yang tercakup dalam ilmu-ilmu non eksata, terutama rumpun ilmu politik dan ilmu sosial, tidak dapat dipaksakan untuk sepenuhnya dijadikan instrumen penggalian berbagai indikator yang tercakup dalam suatu obyek atau variabel penelitian yang mempunyai karakter tersendiri.
Misalnya, obyek atau variabel Rumah Orang Kaya tentu mempunyai tata ruang dan indikator-indikator setiap ruang yang sangat berbeda dengan tata ruang dan indikator-indikator setiap ruang pada variabel Rumah Orang Miskin. Meskipun kedua obyek tersebut sama-sama rumah, namun karakteristik masing-masing rumah tentu sangat berbeda. Jadi tidak relevan menggunakan pendekatan teori rumah orang kaya untuk menilai obyek rumah orang miskin. Disamping itu ada keterbatasan jangkauan fungsi teori.
Sebagai misal, George R. Terry, Hennry Fayol dan pakar-pakar sosiologi lainnya memang menunjukkan fungsi-fungsi manajemen yang agak berbeda, namun fungsi-fungsi manajemen yang ditunjukan mereka itu masih bersifat umum. Ketika teori mereka itu dipakai untuk menyusun konsep operasional variabel Manajemen Warteg, maka dari mereka itu kita hanya bisa mengambil fungsi-fungsi manajemen untuk ditetapkan menjadi dimensi-dimensi kajian.
Fungsi-fungsi yang dimaksud seperti fungsi perencanaan (planning), fungsi pengorganisasian (organizing), fungsi pengawasan (controling), fungsi penggerakan (directing), dan fungsi pelaporan (reporting). Pengambilan fungsi-fungsi itu pun harus disesuaikan dengan karakteristik Manajemen Warteg. Misalnya, fungsi organizing kurang relevan untuk dijadikan salah satu dimensi kajian, karena Manajemen Warteg menganut pola pengorganisasian yang tidak terstruktur dan non formal.
Selanjutnya, karena para pakar sosiologi itu tidak menunjukkan indikator-indikator khusus untuk mengoperasionalkan variabel Manajemen Warteg, maka Kandidatlah yang harus menemukan indikator-indikator untuk masing-masing fungsi manajemen yang dikemukakan oleh para pakar itu, agar fungsi-fungsi manajemen yang dijadikan dimensi-dimensi kajian itu bisa dioperasionalkan dan ”langsung nyambung” dengan hal-hal yang menjadi ciri karakteristik obyek atau variabel penelitian, yaitu Manajemen Warteg Mas Gimin.
Penggunaan teori secara mutlak menurut apa adanya teori memang diharuskan bila ilmu yang dipelajari termasuk ilmu-ilmu eksata, dan perkara-perkara yang diteliti pun memang bersifat eksata. Penggunaan teori secara mutlak menurut apa adanya teori untuk penelitian sosial memang agak janggal.
Penggunaan teori yang tidak relevan. Ada pemegang otoritas penyelesaian tugas akhir studi yang memaksa Kandidat untuk memasukan teori-teori yang sebenarnya tidak relevan untuk dijadikan rujukan penyusunan konsep penelitian. Bila teori-teori yang tidak relevan itu dipaksakan juga untuk menjadi rujukan penyusunan konsep penelitian, maka kemungkinan yang terjadi adalah bahwa konsep tersebut bisa nggak nyambung dengan karakteristik obyek atau variabel penelitian. Ada juga pemegang otoritas yang memaksakan Kandidat harus merujuk sekian banyak teori, dan bahkan diwajibkan mengutamakan teori-teori dari penulis asing. Persoalannya bukan terletak pada seberapa banyak teori yang harus dirujuk, dan siapa penulis teori itu, tetapi terletak pada persoalan apakah teori-teori itu cocok untuk dijadikan instrumen pengungkapan karaktersitik obyek atau variabel penelitian. Artinya, teori-teori yang dirujuk hendaknya benar-benar fungsional untuk menyusun konsep penelitian yang sesuai dengan karateristik obyek atau variabel penelitian.
Cara pengelolaan teori yang tidak rasional. Ada pula kebijakan program yang mewajibkan Kandidat membaca sekian puluh buku dan hasil pembacaan buku itu disusun menjadi bagian dari penyusunan Proposal Penelitian. Kebijakan seperti ini dikenal dengan sebutan ”Reading Course”. Kebijakan seperti itu berlaku pada program yang memang sangat menonjolkan jenis penelitian deskriptif. Dengan kebijakan yang demikian itu, fenomena yang dijadikan obyek penelitian dan judul penelitian terkesan didapat dari rujukan teori atau menurut teori. Kebijakan program seperti itu kurang tepat.
Karena pengelolaan teori yang tidak didasarkan pada suatu konsep gagasan yang jelas dan pasti justru dapat mengaburkan fungsi teori dalam penyusunan Proposal Penelitian. Kebijakan seperti itu bisa juga dianggap tidak benar, karena sama saja dengan menyatakan bahwa proses pengajaran sekian banyak teori, termasuk metodologi penelitian, selama sekian tahun masa perkuliahan, dianggap percuma atau dianggap tidak efektif untuk membekali Kandidat. Sebaiknya teori yang dirujuk sudah didasarkan pada konsep gagasan yang jelas dan pasti. Sebagai misal, variabel X adalah Motivasi dan variabel Y adalah Kinerja, maka dengan sendirinya teori-teori yang dirujuk adalah teori motivasi dan teori kinerja. Di luar kedua teori tersebut tidak ada gunanya.
Karangan Populer
pengertian karangan ilmiah populer menurut 3 sumber:
1.Amir dalam bukunya yang berjudul dasar- dasar Penulisan Karya ilmiah (tahun 2007;halaman 144) Beliau mengatakan bahwa “Karangan ilmiah populer adalah karangan ilmiah yang berisi pembicaraan tentang ilmu pengetahuan dengan teknik yang sederhana mengenai hal- hal tentang kehidupan sehari- hari”.
2. Prof.Dr. Suhardjono dalam bukunya yang berjudul Pedoman Penyusunan Karya Tulis Ilmiah (tahun 2001;halaman 35) Beliau mengatakan bahwa “karangan ilmiah populer yaitu pengetahuan ilmiah yang disajikan dengan tampilan format dan bahasa yang lebih enak dibaca & dipahami, fakta yang disajikan harus tetap obyektif dan dijiwai dengan kebenaran dan metode berfikir keilmuan”.
3. Aceng Hasani (ikhwal menulis;2005) Karangan ilmiah populer adalah karangan yang berisi tentang disiplin limu tetapi tidak mengikuti prosedur karya ilmiah dengan tujuan agar lebih mudah dipahami oleh berbagai golongan.
Itulah pengertian karangan ilmiah populer menurut 3 sumber, dan kami akan menjabarkan pengertian tersebut menurut pendapat kami sendiri. Karena pada dasarnya setiap manusia pastinya memiliki pendapat dan presepsi tersendiri. Dan inilah penjabaran pendapat kami:
Menurut Amir, dalam bukunya yang berjudul “Dasar- dasar Penulisan Karya Ilmiah”,perbedaan Karangan Ilmiah dan Kkarangan Ilmiah Populer berdasarkan bahan, penyajian, sikap penulis serta simpulan adalah sebagai berikut:
No
|
Perbedaan
|
Karangan Ilmiah
|
Karangan Ilmiah Populer
|
1
|
Bahan
|
Menyajikan fakta yang benar/ obyektif, dapat dibuktikan.
|
Menyajikan fakta obyektif, bisa juga fiktif.
|
2
|
Penyajian
|
Menggunakan bahasa baku (cermat, formal, dan lugas), sistematis (sesuai dengan kerja ilmiah), dan metode ilmiah.
|
Menggunakan bahasa yang cermat, tidak selalu formal tetapi tetap taat asas, disusun secara sistematis, tidak memuat hipotesis.
|
3
|
Sikap Penulis
|
Jujur (tidak melebih-lebihkan atau mengurangi sesuatu), objektif (tidak mengejar keuntungan pribadi).
|
Tidak memancing pertanyaan yang meragukan perasaan pembaca agar seolah-olah mereka menghindari sendiri.
|
4
|
Simpulan
|
Berdasarkan fakta dan bukan emotif.
|
Membiarkan fakta berbicara sendiri, sekalipun didahului dengan membimbing dan mendorong pembacanya untuk berpikir aplikasinya.
|
Ciri- ciri tulisan ilmiah Populer
a. Sasaranya masyrakat umum atau awam
b. Kata – katanya sederhana ,mudah didentifikasi dan dipahami
c. Tidak memuat hiptesis
d. Isi dan judul harus informative dan mudah di tangkap maksudnya
e. Karangan ilmiah populer disusun seperti kerucut terbalik
f. Menggunakan bahasa yang komunikatif.
Kerangka Karangan Ilmiah Populer
a. Pendahuluan
b. Tubuh tulisan
c. Penutup
Langkah- langkah Menulis Karangan Ilmiah Populer
a. Menelaah tema
b. Menguji kelayakan topik
c. Mengumpulkan bahan sumber tulisan
d. Menyusun kerangka
e. Mengembangkan kerangka (Soesena, 1993: 77)
http://kiarukayaah.blogspot.com/2013/10/kelola-dana-haji-indonesia-siap-gandeng.html
Langganan:
Postingan (Atom)
